Temukan di Blog Ini ...!

Memuat...

Senin, 20 April 2015

Terjemahan AL-BARZANJI

Sudah lama baru sempat posting di blog ini lagi...

Pernahkah anda menghadiri suatu acara keagamaan Islam yang di dalamnya dibacakan kitab 'Al-Barzanji'..???

Mungkin masih banyak yang belum tahu bahwa sebenarnya isinya adalah riwayat Nabi Besar Muhammad SAW. karena memang tertulis dalam Bahasa Arab tanpa terjemahan...
Nah.., berikut ini saya uraikan terjemahan lengkapnya dalam Bahasa Indonesia.., semoga bermanfaat...


AL-BARZANJI
(Terjemahan dalam Bahasa Indonesia)

Aku memulai membacakan (kitab ini) dengan menyebut Nama Dzat, Tuhan yang Maha Tinggi, seraya memohon derasnya luapan berkah atas apa yang telah diberikan oleh-Nya. Dan keduanya, aku panjatkan puji yang muara airnya enak nan segar, sambil menaiki kendaran syukur yang indah. Dan aku panjatkan sholawat dan salam kepada Cahaya (Nabi SAW.) yang mendahului makhluk lain, yang berpindah-pindah di dahi yang indah dan cerah. Dan aku memohon pemberian Allah SWT berupa keridhaan yang khusus untuk para keluarga Nabi SAW. yang suci dan merata untuk para Sahabat, pengikut dan orang-orang yang menolongnya. Dan aku minta petunjuk-Nya agar bisa melewati jalan yang jelas dan agar dijaga dari kesesatan di dalam garis-garis dan langkah kesalahan. Dan aku sebarluaskan baju keindahan berupa kisah Maulid (kelahiran Nabi SAW.) dengan Bahasa Indonesia (terjemahan dari Bahasa Arab), seraya menata kalung berupa nasab beliau yang mulia yang sekira menghiasi pendengaran. Dan aku minta tolong dengan kekuatan Allah Ta’ala yang sangat kuat, karena tiada daya dan upaya selain dengan Allh SWT.

Setelah itu semua, dia adalah Sayyidina Muhammad putra Abdullah putra Abdul Muttholib yang nama beliau adalah Syaibatul Hamd yang dipuji kelakuan-kelakuan beliau yang amat luhur. Beliau putra Hasyim yang nama aslinya adalah ‘Amr, putra ‘Abdi Manaf, beliau bernama Mughirah yang amat tinggi perangainya. Putra Qushoy yang nama aslinya adalah Mujammi’. Beliau mendapat julukan Qushoyy (jauh) disebabkan kejauhan beliau di negeri Qudlo’ah yang amat jauh, sampai akhirnya beliau dikembalikan oleh Allah SWT. ke Tanah Haram hingga beliau menjaga tanahnya yang dipagar.

Beliau putra Kilab yang nama aslinya adalah Hakim, putra Murrah, putra Ka’b putra Luayy putra Gholib putra Fihr yang nama aslinya adalah Quroisy dan kepadanyalah suku-suku Quroisy dinisbahkan. Sedangkan bangsa yang dinisbahkan di atas beliau disebut bangsa Kinany, sebagaimana pendapat yang dipilih dan direstui oleh kebanyakan para Ulama’. Putra Malik putra Nadlr putra Khuzaimah putra Mudrikah putra Ilyas, orang yang pertama kali menghadiahkan onta untuk tanah haram dan di tulang rusuknya terdengar Nabi SAW.. berdzikir dan membaca talbiyah. Beliau adalah putra Mudlor putra Nizar putra Ma’add putra ‘Adnan.

Ini semua adalah kalung yang intan- intannya ditata oleh jemari Sunnah yang luhur. Selanjutnya, nasab ini tidak diperkenankan untuk ditinggikan lagi oleh Nabi SAW.. Namun yang jelas, ‘Adnan berintisab sampai ke Nabi Isma’il Adzzabih menurut para ahli di bidang nasab. Sungguh.., sangat menakjubkan keagungan (nasab yang mirip) kalung yang berkilau bintang-bintangnya yang bersinar..!!!

Bagaimana tidak..? toh yang berada di tengahnya adalah Sayyid yang sangat mulia..!!!

Itulah nasab (keturunan) yang oleh sebab perhiasannya, disangka oleh keluhuran bahwa bintang-bintangnya dikalungi oleh bintang Jauza’.

Sungguh menyenangkan kalung kebesaran dan keagungan yang mana engkaulah kalung itu yang tiada duanya.

Sungguh menakjubkan mulianya nasab yang disucikan oleh Allah SWT. dari perzinahan jahiliyah. Azzain Al’iroqytelah mengajakpenimbanya ( datang ) di tempatairnya yang enak dan ( maksudnya ) telah meriwatkannya.

Tuhan telah menjaganya demi memuliakan Nabi Muhammad SAW.. bapak-bapaknya yang mulia, demi menjaga namanya.

Mereka tinggalkan perzinahan, hingga tiada terhampiri oleh aibnya zinah, mulai dari Nabi Adam sampai ayah dan ibunya. Mereka adalah para orang mulia yang cahaya kenabian beredar di dalam garis-garis dahi yang bersinar, dan sang purnama terbit di kening neneknya, yaitu ‘Abdul Muttholib dan putranya yaitu ‘Abdullah.

Setelah kehendak Allah SWT. memunculkan hakikat Nabi Muhammad SAW.. dan menjelmakannya secara jasmani dan rohani, maka Dia memindahkannya ke tempat persinggahannya, yaitu kandungan Sayyidah Aminah Azzuhriyah yang mirip dengan penyimpanan mutiara. Memang, ia disepesialkan oleh-Nya menjadi ibu Nabi Mushthofa.

Di langit dan di bumi diumumkan bahwa Sitti Aminah mengandung Nabi Muhammad yang bercahaya. Bagi setiap orang yang merindukan tambah merindukannya agar bias menghirup udara segarnya. Bumi yang telah lama gersang menjadi terhiasi oleh tumbuh-tumbuhan yang mirip dengan pakaian sundus. Buah-buahan menjadi matang dan pepohonan mengayunkan buahnya pada orang yang ingin memetiknya. Setiap binatang yang dimiliki suku Quroisy dengan jelas menyuarakan dikandungnya Nabi SAW.. Kursi-kursi kerajaan dan berhala-berhala terjungkal di wajah dan mulutnya. Binatang-binatang liar di timur dan barat dan yang berada di laut ikut bergembira. Seluruh alam ikut meneguk gelas-gelas kegembiraan. Para jin dihibur dengan dekatnya kelahiran Nabi SAW., ramalan-ramalan tukang ramal menjadi tidak tepat, kependetaan menjadi ketakutan. Setiap orang pintar dan tahu rindu dengan kabar ini, dan mereka dibuat bingung dengan keindahan beliau.

Di saat sedang tidur, ibu Aminah didatangi seseorang dan dikatakan padanya, “Sungguh, engkau sedang mengandung pemimpin seluruh jagad dan orang terbaik dari mereka. Maka jika engkau sudah melairkannya, maka berilah nama ‘Muhammad’ (orang yang banyak dipuji), karena pada akhirnya akan banyak dipuji.”

Setelah beliau genap dikandung selama dua bulan menurut qoul masuhur yang diridhai, di Al-Madinah Al-Munawwarah ayah beliau (‘Abdullah ) dipanggil pulang oleh Allah SWT.

Sebelum itu, beliau mampir lewat di paman-pamannya, yaitu Bani ‘Ady (suku kecil Bani Najjar). Beliau berada di tengah-tengah mereka selama satu bulan dalam keadaan sakit dan dirawat oleh mereka. Dan setelah genap sembilan bulan qomariyyah menurut qoul yang rojih dan sudah saatnya zaman bersih dari karat, maka di malam kelahirannya ibunya didatangi oleh Asiyah (istri ‘Fir’aun) dan Sitti Maryam bersama rombongan para wanita yang suci. Dan akhirnya Ibu Aminah bersalin dan melahirkannya dalam keadaan bercahaya yang sangat bersinar dari atasnya. Wajahmu bagaikan mentari bersinar. Malam yan cerah semakin cerah. Itulah malam kelahiran yang menjadikan agama menjadi gembira dan berseri.

Di hari itu, putri Wahab (Sitti Aminah mendapatkan keagungan yang tidak bisa diraih banyak wanita. Ia mendatangi kaumnya dengan membawa anak yang utamanya melebihi yang dikandung oleh Sitti Maryam (‘Isa AS). Kelahiran yang membawa kerusakan dan musibah pada munculnya kekufuran.

Suara-suara yang berisi kabar gembira terus berbunyi, demi memberi sambutan kelahiran Nabi yang terpilih SAW.. dan tibalah kenikmatan.

Camkan ini semua..!!!

Di saat kita menyebutkan detik-detik kelahiran Beliau SAW.. kita diseyogyakan berdiri oleh para Ulama’ yang kapabel dan ahli di bidang meriwayatkan hadits. Maka, beruntunglah orang-orang yang pengagungan terhadap Nabi SAW.. menjadi tujuannya.

Beliau SAW.. terlahir dalam keadaan meletakkan kedua tangannya di atas tanah, mengangkat kepalanya ke langit yang tinggi. Dengan isyarat (pratanda) ketinggian beliau di atas segala mahluk. Oleh sebab beliau adalah orang yang dikasihi yang amat baik perangai dan budinya. (Saat itu), ibunya memanggil Sayyidina ‘Abdil Muttholib yang sedang bertawaf di bangunan itu (Ka’bah). Lalu bergegas kembali dan melihatnya dan beliau sampai di ujung kegembiraan. Lalu beliau membawanya masuk di dalam Ka’bah yang cerah dan berdoa dengan ketulusan hati. Beliau bersyukur pada Allah SWT. atas pemberian ini.

Beliau SAW.. dilahirkan dalam keadaan bersih dan sudah bersunat dengan kekuasaan Tuhan, harum, berminyak dan bercelak kedua matanya dengan celak hasil perhatian Tuhan. Namun ada yang mengatakan bahwa beliau disunat oleh neneknya setelah berumur genap tujuh hari. Lalu beliau mengadakan walimah dan memberinya nama Muhammad SAW.. dan memuliakan kedudukannya.

Di saat kelahiran Nabi SAW.. terjadi banyak keanehan ghaib, sebagai dasar nubuwahnya dan agar diketahui bahwa beliau adalah orang yang dipilih oleh-Nya. Langit ditambah penjagaannya dan setan-setan yang nakal ditolak dari langit. Dan setiap setan yang ingin naik ke langit dihantam. Bintang-bintang yang berkilau mendekat pada beliau dan menyebabkan dataran tinggi dan rendahnya Tanah Harom menjadi bersinar. Bersamaan dengan kelahiran beliau, muncul cahaya yang sinarnya sampai menerangi gedung-gedung kaisar yang berada di Syam. Dan setiap orang yang berada di Makkah bias melihat cahaya ini. Pagar yang ada di kota Kisro (Iran) saat itu pecah, padahal telah di bangun dengan megah oleh Raja Anu Syarwan. Bahkan menaranya yang berjumlah empat belas ikut terjatuh. Kerajaan Kisro (Faris) hancur (saat itu) oleh saking dahsyatnya kelahiran Nabi SAW.. Api yang disembah di kerajaan Persia menjadi padam oleh sebab terbitnya Sang Purnama yang bersinar wajahnya. Danau SAW.ah yang terletak di antara Hamadzan dan Qumm di negeri ‘Ajam (luar arab) menjadi kering dan sumber-sumbernya menjadi mati oleh sebab Lembah Samawah yang terletak di antara daratan dan padang belantara yang sebelumnya sama sekali tidak ada airnya untuk orang yang dahaga, menjadi penuh.

Beliau SAW.. dilahirkan di tanah Makkah, yaitu negeri yang tidak boleh dipetik pepohonannya. Sedangkan mengenai tahun, bulan dan hari kelahirannya, banyak beda pendapat dari para ‘Ulama. Namun qoul yang paling unggul mengatakan bahwa Beliau lahir di saat fajar hampir terbit di hari Senin tanggal dua belas bulan Rabi’ul Awwal dari tahun Gajah yang mana telah dihalau oleh Allah SWT. dari memasuki tanah Haram.

Selama bebrapa hari beliau SAW.. disusui oleh ibunya, kemudian disusui oleh ibu Tsuwaibah Al-Aslamiyah. Ia adalah mantan budak milik Abu Lahab yang dimerdekakan oleh majikannya sejak ia datang padanya memberi kabar gembira tentang kelahiran Nabi SAW.. Ia menyusui baginda bersama putranya yang bernama Masruh dan Abi Salamah dengan sangat senang. Sebelum itu ia menyusui Hamzah yang dapat sanjungan di dalam pembelaannya pada Islam.

Dan setelah Nabi SAW.. berada di Madinah, beliau memberinya pakaian yang layak dan sesuatu yang lain, sampai sepeninggalnya. Adapun agama yang ia anut, ada yang menceritakan bahwa ia tetap memeluk agama kaumnya, yaitu Jahiliyyah. Dan ada pula yang mengatakan bahwa ia telah masuk Islam, sebagaimana yang telah diceritakan oleh ‘Ulama yang bernama Ibnu Mandah.

Kemudian (setelah beliau selesai disusui oleh Tsuwaibah), beliau disusui oleh seorang yang masih muda. Yaitu Halimah Assa’diyyah. Sebelum itu, ia tidak laku sebagai penyusu karena saking fakirnya. Namun setelah ia menyusui Nabi SAW.. langsung ia menjadi kaya di sore harinya. Sampai air susunya mengalir dengan deras dan hingga susu yang lain dipakai menyusui saudara Nabi SAW.. Dan (berkah dari menyusui Nabi SAW..) ia menjadi gemuk dan kaya, begitu juga unta dan kambing yang ada di dekatnya, dan setiap musibah terhindar dari dirinya dan akhirnya hidupnya menjadi enak.

Semenjak masih kecil, Nabi SAW. berkembang sehari sebagaimana umumnya anak selama satu bulan, dengan pertolongan Tuhan. Maka dalam tempo tiga bulan, beliau sudah bisa berdiri di dua kakinya. Bisa berjalan pada usia lima bulan, dan menjadi kuat fisiknya di usianya yang kesembilan bulan, dengan disertai pembicaraan yang terampil. Di saat itu juga ada dua malaikat melakukan pembedahan pada dada beliau yang mulia dan mengeluarkan segumpal darahnya, yang mana darah itu merupakan bagian setan, lalu membasuhnya dengan salju. Keduanya mengisinya dengan hikmah dan keimanan. Kemudian keduanya menjahitnya dan akhirnya memberikan cap kenabian. Keduanya juga menimbangnya dengan seribu dari ummat beliau yang terbaik, namun beliau lebih berat dari semuanya. Sejak beliau masih kecil sudah berada di dalam peringai yang sangat sempurna.

Kemudian, setelah peristiwa pembedahan tersebut ibu Halimah mengembalikannya pada ibu beliau dalam keadaan tiada tega, karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Kemudian, pada saat setelah beliau nikah dengan Khodijah, seorang besar yang bersinar, Ibu Halimah pernah berkunjung pada Nabi SAW. lalu beliau memberinya dengan pemberian yang besar. Dan di saat terjadi perang Hunain, Ibu Halimah juga pernah menemui Nabi SAW. Lalu beliau menghormatinya dengan pemberian dan mempersilahkan duduk di atas selendang yang sengaja beliau gelar untuknya. Sedangkan agama yang ia peluk menurut qoul yang sahih adalah Islam, ia masuk Islam bersama anak cucunya, sebagaimana ia dikatagorikan sebagai Sahabat oleh sekelompok perawi yang bisa dipercaya.

Setelah beliau menginjak usia empat tahun, beliau diajak oleh ibunya pergi ke Madinah. Kemudian sekembalinya dari Madinah dan tepatnya di desa Abwa’ atau di Syi’bil Hajun (dua pendapat), Sang ibu wafat. Lalu beliau digendong dan diasuh oleh Ummu Ayman Alhabasyiyyah yang mana beliau setelah itu dinikahkan oleh Nabi SAW. dengan Zaid bin Haritsah, seorang mantan hamba Nabi SAW. Kemudian (setelah sampai di Makkah) ibu asuh membawanya masuk ke nenek Abdul Muttholib, lalu sang nenek merangkulnya dan mengasihinya dan menggendongnya ke atas. Seraya beliau berkata, “Anakku ini memilki sesuatu yang sangat agung, maka bagus sekali orang yang memuliakan dan mengasihinya.” Semenjak beliau masih kecil, beliau tidak pernah sama sekali mengadukan lapar dan dahaga. Sering sekali beliau tidak makan, lalu meminum air zamzam dan ini sudah cukup menjadikan kenyang. Dan setelah nenek Abd. Muttholib meninggal, beliau diasuh oleh sang paman (saudara kandung sang ayah), yaitu Abi Tholib dengan baik dan menjaganya dengan penuh dan bahkan beliau lebih didahulukan dari pada putra-putra sang paman sendiri.

Setelah beliau sampai ke usianya yang keduabelas, beliau diajak pergi oleh pamannya ke Negeri Syam. Di sana oleh pendeta Buhairo tahu pada anak calon nabi ini dari sifat-sifat kenabian yang ada pada diri Nabi SAW. Ia berkata, “Aku yakin anak ini bakal menjadi nabi dan rasul. Pohon dan batu pada sujud padanya, padahal keduanya tiada bersujud kecuali kepada nabi yang banyak kembalinya pada Allah SWT. Kami menemukan ciri-cirinya di dalam kitab-kitab samawi yang kuno. Di antara kedua punggung Nabi SAW. ada cap kenabian yang diselimuti oleh cahaya”. Kemudian pendeta memerintahkan paman Nabi SAW. agar dibawa pulang kembali, karena menghawatirkan terjadi sesuatu dari orang-orang Yahudi. Akhirnya Sang paman membawanya pulang dan tidak sampai melewati Bushro sebuah kota yang ada di Syam.

Setelah beliau menginjak usia dua puluh lima tahun, beliau pergi ke Bushro dengan tujuan mendagangkan dagangan Khadijah . Beliau dibantu oleh budaknya yang bernama Maisaroh. Di perjalanan, beliau singgah dan istiahat di bawah pohon yang ada di dekat gereja pendeta yang berama Nasthuro. Lalu pendeta tahu bahwa beliau adalah nabi, karena dedaunan yang sangat lebat itu condong menaunginya. Ia berkata, “Tidak ada yang istirahat di bawa pohon ini selain Nabi yang memiliki sifat-sifat yang bersih dan Rasul yang dipilih dengan pemberian-Nya. Kemudian ia ingin mengecek tanda-tandanya yang lebih samar dan bertanya kepada Maysaroh, “Apakah di kedua matanya ada kemerah-merahan?” Maysaroh menjawab, “Ya!” Maka sungguh tepatlah apa yang ia sangka semula. Dan ia berpesan kepada Maysaroh, “Jangan sampai kau meninggalkan orang ini! Kau harus menyertainya dengan sungguh dan hati yang lapang! Karena orang ini termasuk di antara manusia yang dipilih dan dimuliakan oleh Allah SWT. dengan kenabian..!”

Kemudian beliau kembali ke Makkah dan dijemput oleh Ibu Khoijah bersama para wanita dari atas panggung, saat itu beliau dikawal oleh dua Malaikat yang menaungi dari atasnya dari terik matahari. Hal semisal ini oleh Maisaroh dilihat selama di perjalanan, lalu olehnya ia ceritakan pada Sitti Khodijah. Begitu juga apa saja yang diucapkan dan dipesankan oleh pendeta, semuanya ia ceritakan. Dan di dalam perdagangan ini Allah SWT. memberikan laba yang melimpah pada Sitti Khodijah. Ahirnya, Khodijah tahu bahwa beliau adalah manusia pilihan Allah SWT. yang diutus pada semua makhluk. Ahirnya beliau memintanya agar Nabi SAW. sudi menikahinya, agar bisa mencium bau segar keimanan padanya. Lalu Nabi SAW. menceritakan lamaran ini kepada paman-pamannya, akhirnya semuanya setuju karena Khodijah memiliki kelebihan, agama, rupa, nasab dan harta, yang mana sifat-sifat ini digandrungi oleh setiap orang. Kemudian, Abi Thalib berpidato dengan memuji Allah SWT. dan memuji pada Nabi SAW. Di dalam pidatonya ia berkata, “Ia ini, demi Allah, memiliki kisah yang agung yang akan menjadikannya mendapat sanjungan.” Ahirnya, Sitti Khodijah dinikahkan dengan diwalikan oleh bapaknya atau pamannya atau saudaranya (beberapa pendapat), karena suratan yang mentakdirkannya menjadi orang yang beruntung. Dan dari pernikahan ini terlahir semua putra-putra Nabi SAW. kecuali putra yang beliau beri nama Ibrahim.

Ketika Nabi SAW. berada di usianya yang yang tiga puluh lima, orang-orang Quroisy merenovasi Ka’bah karena keadaannya yang pecah oleh sebab diterpa banjir Makkah. Saat itu mereka berebut mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula, setiap orang dari mereka berkeinginan melakukannya. Perang mulut pun teradi dan akan mereka sudah mengadakan sumpah untuk berperang fisik dan terjadi fanatisme yang berlebihan. Namun mereka akhirnya sadar dan menyerahkan semua ini kepada orang yang yang memiliki pemikiran yang baik dan ketenangan. Lalu orang ini menyerahkan keputusan kepada orang yang pertama kali masuk lewat pintu Sadanah Assyaibiyyah. Dan ternyata Nabi SAW. adalah orang yang masuk ke situ lewat pintu tersebut. Maka semuanya bergumam, “Nah, ini Al-Amin (orang yang di percaya)..! Kita semua rela dan menerimanya.” Lalu mereka menceritakan kerelaan semua pihak di dalam menyelesaikan masalah ini kepada Nabi SAW. Kemudian beliau meletakkan Hajar Aswad tersebut di atas sebuah kain dan memerintahkan kepada semua suku agar mengangkatnya ke tempatnya semula. Akhirnya semuanya turut mengangkatnya di tempatnya yang berdekatan dengan tiang bangunan itu dan Nabi SAW. yang meletakkannya dengan tangan beliau yang mulia di tempatnya yang sekarang dan membangunnya kembali.

Setelah beliau menginjak usianya yang keempat puluh, menurut qoul yang paling sahih, beliau diutus oleh Allah SWT. Ke seluruh jagad sebagai orang yang bertugas memberi kabar gembira dan pemberi peringatan, sehingga semuanya mendapatkan hidangan rahmah. Pertama-tama beliau diberi mimpi-mimpi yang benar dan jelas. Setiap kali beliau bermimpi, maka selalu membawa sinar cerah sebagaimana saat fajar menyingsing. Risalah ini memang dimulai dengan mimpi adalah agar menjadi pelatihan terhadap kekuatan manusiawi, agar tidak dikejutkan dengan Malaikat yang tampak jelas dengan membawa kenabian hingga menjadi tidak kuat. Setelah itu, beliau senang menyendiri dan beribadah di goa Hira selama beberapa malam hingga akhirnya beliau mendapatkan dan didatangi oleh kebenaran yang jelas. Peristiwa itu terjadi di hari Senin tanggal tujuh belas dari bulan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qodar. Namun di balik qoul ini, ada yang mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal “dua puluh empat” atau “dua puluh tujuh” atau “dua puluh delapan” dari bulan Robi’ul-Awwal.

Malaikat (Jibril) berkata pada Nabi SAW., “Iqra’..! (Bacalah!)”
Lalu beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca..!”
Lalu Malaikat memeluknya dengan kuat. Kemudian Malaikat berkata lagi, “Iqra’..!”
Maka Nabi-pun menjawab, “Aku tidak bisa membaca..!”
Maka Malaikat memeluknya untuk kedua kalinya hingga beliau mendapat kepayahan. Kemudian Malikat berkata lagi, “Iqra’..!”
Dan Nabi SAW. menjawab, “Aku tidak bisa menjawab..!”
Akhirnya Malaikat memeluknya untuk yang ketiga agar supaya beliau berkonsentrasi dengan penuh kepada apa yang bakal diwahyukan padanya dan agar menerimanya dengan sungguh-sungguh.

Kemudian wahyu mengalami transisi selama tiga tahun atau tiga puluh bulan, agar supaya ada kerinduan untuk mencium bau segar yang sangat beraroma. Kemudian diturunkan wahyu, “Yaa ayyuhal muddatssir” yang dibawa Jibril dan langsung dipanggilkan pada Nabi SAW. Diawalinya wahyu dengan Ayat “Iqra’” menjadi bukti bahwa Nubuwwah beliau mendahului Risalah-nya yang berisi kabar gembira dan peringatan kepada orang yang dida’wahi.

Orang yang pertama kali beriman pada Nabi SAW. dari laki-laki dewasa adalah Abu Bakar yang terkenal dengan sebutan As-Siddiq dan goa. Dan yang dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib, dan dari wanita adalah Khodijah, orang yang hatinya dikuatkan oleh Allah SWT. dan dijaganya. Sedangkan dari kalangan mantan budak adalah Zaid bin Haritsah dan dari budak adalah Bilal, orang yang pernah di siksa oleh majikannya yaitu Umayyah demi mempertahankan agama Allah SWT. dan kemudian ditebus oleh Abu Bakar lalu dimerdekakan olehnya. Kemudian menyusul masuk Islam Utsman, Sa’d, Sa’id, Thalhah, Abdurrahman, saudara sepupunya yaitu Shafiyah, dan lain-lain, yaitu orang-orang yang diberi minum keimanan oleh Abu Bakar (yakni dida’wahi oleh beliau).
Saat itu beliau dan para sahabat terus-menerus melakukan ibadah dengan cara sembunyi-sembunyi, sampai beliau diberi ayat yang memerintahkan agar terbuka didalam berda’wah (Al-Hijr : 94) dan akhirnya beliau terbuka di dalam berda’wah. Tidak lama kemudian beliau mencela barang-barang yang mereka anggap tuhan dan mengajak meninggalkan segala bentuk kemusyrikan. Dan ini menyebabkan mereka berani melawan dan memusuhinya, sampai-sampai kaum Muslim mendapat derita yang amat sangat dari permusuhan mereka dan ahirnya mereka berhijrah ke daerah yang dipimpin oleh raja Najasyi pada tahun kelima dari kenabian. Sedangkan Nabi SAW. dibela oleh pamannya, Abi Thalib, maka semuanya segan dan takut.

Di saat itu beliau diwajibkan melakukan sholat sebentar di waktu malam dan ini berjalan terus hingga direvisi dengan Ayat Al-Muzzammil : 20. Kemudian beliau diwajibkan melakukan solat dua raka’at di pagi hari dan dua raka’at di sore hari. Sampai ahirnya kewajiban ini dirubah dengan diwajibkannya sholat lima waktu di saat beliau dipanggil Isra’. Kemudian di saat pertengahan bulan Syawwal pada tahun kesepuluh dari kenabian, Abu Thalib meninggal. Kemudian Khodijah ikut menyusul kepergian Abi Thalib selang tiga hari. Maka kematian kedua tokoh ini menyebabkan kaum Muslimin tambah menderita dan Nabi SAW. mendapat perlakuan yang sangat buruk dari kaum Quroisy.
Kemudian pada suatu saat, Nabi SAW. berangkat menuju Thoif dengan tujuan memberi da’wah kepada suku Tsaqif, namun mereka tidak mengindahkan ajakan beliau dan bahkan mereka menyuruh para budak dan anak-anak kecil agar mencacinya dan melemparkan batu padanya sampai sandal beliau terkena darah dari kakinya. Kemudian Nabi SAW. kembali ke Makkah dengan diliputi kesusahan, lalu beliau ditemui Malaikat yang mengurusi gunung dan menawarkan padanya untuk menghancurkan mereka yang memilki fanatisme jahiliyyah. Namun beliau menjawabnya, “Aku berharap Allah akan mengeluarkan dari mereka anak-anak yang di kasihi oleh-Nya.”

Kemudian Nabi SAW. dipanggil berisra’ dengan ruh dan jasad beliau dalam keadaan terjaga dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha dan halamannya yang suci. Dan beliau juga dinaikkan ke langit, dan di langit yang pertama beliau melihat Nabi Nabi Adam dalam keadaan yang sangat agung. Di langit yang kedua beliau melihat Nabi ‘Isa bin Maryam, seorang perawan yang baik dan bertaqwa, dan di sana juga bertemu dengan saudara sepupu ‘Isa, yaitu Nabi Yahya, nabi yang di angkat menjadi nabi sejak saat masih kecil. Di langit ketiga, beliau melihat Nabi Yusuf dengan keadaannya yang sangat tampan. Di langit keempat beliau melihat Nabi Idris yang di derajat dan tempatnya ditinggikan oleh Allah SWT. Beliau melihat Nabi Harun yang disukai oleh Bani Isra’il di langit yang kelima. Dan di langit yang keenam beliau melihat Nabi Musa yang pernah menerima firman Allah SWT. secara langsung. Di langit yang ke tujuh beliau melihat Nabi Ibrahim yang menghadap Tuhannya dengan hati yang selamat dan baik dan pernah dibakar oleh raja Namrudz namun diselamatkan oleh Allah dari rekayasa raja.

Kemudian beliau diangkat sampai ke Sidratil Muntaha hingga beliau bisa mendengar suara Qalam yang menulis segala sesuatu yang bakal terjadi dan bahkan sampai ke Maqam Mukafahah, sebuah tempat yang dekat pada Allah Ta’ala. Saat itu Allah Ta’ala menghilangkan tabir-tabir Nur keagungan, sampai beliau diperlihatkan Dzat Allah Ta’ala dengan dua mata kepala beliau. Di situ juga dibentangkan maqam Idlal dengan Tuhan. Dan diwajibkan atas beliau dan ummmatnya lima puluh kali sholat sehari semalam. Namun tercurahlah awan anugerah sampai dikurangi hingga hanya diwajibkan lima kali yang memilki nilai atau pahala sama dengan lima puluh kali, sebagaimana ketentuan Azali-Nya.
Kemudian beliau kembali pada malam itu juga dan dari sekembalinya ada yang mempercayai isra’ ini, seperti Abi Bakar R.A. dan orang-orang yang memiliki pemikiran yang benar. Namun rata-rata orang-orang Quroisy tidak percaya padanya dan bahkan ada pula orang menjadi murtad karena tertipu dengan godaan setan.

Kemudian beiau menunjukkan kepada beberapa suku di saat ada acara peribadatan haji bahwa dirinya adalah utusan Allah Ta’ala. Lalu dari kelompok Anshor ada enam orang yang beriman padanya, yaitu orang- orang yang mendapatkan kekhususan ridha dari-Nya. Dan di tahun kemudian dari kelompok Anshor juga ada yang pergi haji dan kemudian membai’atnya (masuk Islam) dengan sungguh-sungguh. Maka dari kepulangan mereka, Islam mulai ramai di Madinah hingga kota ini menjadi tempat singgah Islam. Kemudian pada tahun ketiga datang juga tujuh puluh tiga (ada yang mengatakan tujuh puluh lima orang) dan dua wanita dari suku Aus dan Khazraj. Dan dari jumlah tersebut, semuanya membai’atnya dan beliau memberikan mandat kepada dua belas orang yang memiliki jiwa ketokohan untuk memimpin mereka. Kemudian mereka inilah yang menjadi tempat orang-orang Muslim Makkah yang berhijrah demi meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang yang sudi meninggalkan kekufuran.

Lalu orang-orang Quroisy merasa khawatir jika Nabi SAW. menyusul mereka dengan cepat. Maka mereka berembug untuk membunuhnya, namun Allah Ta’ala tetap menjaganya dari tipu daya mereka. Dan beliau mendapat ijin untuk berhijrah, maka mereka pun menjeratnya dan ingin menjatuhkannya di lembah kematian. Lalu beliau keluar menghadapi mereka dan menebarkan debu di atas kepala mereka, dan beliau beristirahat di goa Tsaur dengan disertai sahabat Abu Bakar RA. dan hal ini merupakan suatu keberuntungan baginya. Di dalam goa tersebut beliau berdiam selama tiga hari dengan dijaga oleh burung merpati dan laba-laba pada daerah sekitar goa. Kemudian beliau keluar dari goa pada malam Senin dengan mengendarai kendaraan yang sangat bagus. Dan di tengah perjalanan, beliau di kejar oleh Suraqah, maka dengan hati yang sangat tulus dan rendah beliau berdoa pada Allah Ta’ala. Lalu kaki kuda yang ia tumpangi masuk ke dalam tanah yang keras, tapi setelah ia meminta keamanan dari beliau, beliau tetap memberikan keamanan.

Di perjalanan hijrah, beliau melewati daerah Qudaid dan singgah di rumah Ummi Ma’bad Al-khuza’iyah. Di situ beliau hendak membeli daging atau susu, namun di dalam bejana-bejana yang dimiliki Ummi Ma’bad sama sekali tidak ada isinya. Lalu beliau melihat kambing yang ada di rumah yang sedang dalam keadaan sangat lemah dan tidak bisa digembala. Lalu beliau minta ijin padanya untuk meerahnya dan tuan rumah pun mengijinkan seraya berkata, “Seandainya ada air susunya, sudah barang tentu kami bisa mendapatkannya.” Kemudian Nabi memegang susu kambing tersebut sambil berdoa pada Allah, Tuhan yang mengasihi dan menolongnya. Maka kontan air susu kambing menjadi deras dan bahkan bisa mencukupi rombongan yang menyertai Nabi. Nabi SAW. juga mengulangi memerahnya dan meletakkan di bejana yang ada di situ dan meninggalkannyasebagai tanda yang sangat jelas.
Kemudian setelah itu, sang suami yaitu Abu Ma’bad datang dan melihat air susu yang melimpah hingga ia dibuatnya sangat heran. Ia bertanya, “Bagaimana ini, padahal di dalam rumah tidak ada kambing yang bisa mengeluarkan air susu setetespun?” Sang istri menjawab, “Tadi ada laki-laki yang penuh berkah bercirikan begini dan begitu mampir kesini. ”Sang suami menambahkan, “Ooo, itu seseorang dari Quroisy..!.” Bahkan ia bersumpah, “Seandainya ia melihatnya, niscaya ia akan mendekat padanya, mengikuti dan beriman padanya”.

Kemudian Nabi SAW. sampai di Madinah pada hari Senin tanggal dua belas Rabi’ul Awwal. Dan sebab kedatangan beliau ini, kota Madinah menjadi cerah dan bersih. Dan saat beliau datang, beliau dijemput para sahabat Anshor dan beliau singgah di Qubaa’ dan mendirikan masjid di sana dengan pondasi takwa.

Adalah Nabi SAW. orang yang paling sempurna tubuh dan budinya, berpribadi dan budi yang luhur. Beliau sedang ketinggian badannya, putih kemerah-merahan, luas dan bercelak kedua matanya, tebal serta melengkung kedua alisnya, runcing gigi-giginya, luas dan indah mulutnya, luas keningnya, dengan dahi yang bersinar, rata kedua pipinya, pada hidungnya ada sedikit, berjauhan jarak kedua punggungnya, luas kedua tapak tanganya, sedikit daging tungkainya, tebal jenggotnya, dengan rambut yang menggapai daun telinga. Di antara kedua punggungnya ada cap kenabian dengan sinar yang menyelubunginya. Keringat beliau seperti kilauan mutiara, keringatnya berbau harum melebihi keharuman misik. Ketika berjalan seakan turun dari dataran tinggi. Jika ada orang yang bersalaman dengan tangan beliau yang mulia, maka ia akan mendapatkan keharuman tangannya berhari-hari. Dan jika seandainya beliau memegang kepala salah satu anak kecil, maka anak tersebut akan diketahui bahwa anak tersebut pernah dipegang oleh Nabi SAW. dari antara sekian banyak anak karena baunya yang wangi. Wajah beliau berkilau bagai bulan purnama, sampai orang yang pernah melihatnya akan menerangkan sifat-sifatnya dengan ucapannya, “Aku tidak pernah melihat sebelumnya seorang pun dan tidak akan bakal ada orang yang melihat orang yang seperti beliau”.

Dan adalah Nabi SAW. sangat pemalu dan tawadhu’, beliau menjahit sandalnya, menambal bajunya, memerah kambingnya dan melayani keluarganya dengan dirinya. Beliau mencintai orang-orang faqir miskin, duduk bersama mereka, membesuk mereka yang sedang sakit, mengiring jenazah mereka dan tidak pernah menghina orang faqir yang terbakar oleh kefakirannya. Beliau mengampuni orang lain, tidak menghadapi seseorang dengan sesuatu yang ia benci, dan berjalan dengan para janda dan budak. Beliau sama sekali tidak takut pada raja dan marah karena Allah dan ridha karena disitu ada ridha Allah. Beliau berjalan di belakang para sahabatnya dan berkata pada merteka, “Biarkan di belakangku ada para Malaikat yang halus..!” Beliau berkendara onta, kuda, bighal dan khimar (keledai) yang dihadiahkan oleh sebagian raja pada beliau. Beliau membalutkan batu pada perutnya karena saking laparnya, padahal beliau telah diberi kunci-kunci ekonomi dunia. Pernah pada suatu saat, gunung-gunung menawarkan padanya untuk berubah menjadi emas, namun beliau menolaknya.

Dan adalah Nabi SAW. sangat sedikit sekali berbuat yang tidak berguna. Beliau jika bertemu seseorang, maka beliaulah yang memulai memberikan salam. Dan jika sholat, beliau melakukannya agak lama. Sedangkan jika berkhotbah, maka beliau mempercepatnya. Kepada orang-orang memiliki kemuliaan, beliau bergaul dengan santai dan kalem. Beliau memuliakan orang-orang mulia. Beliau juga bergurau, namun tidak berucap kecuali dengan ucapan yang benar yang dicintai dan diridhai oleh Allah.

Di sini, keterangan-keterangan yang mirip dengan kuda yang indah telah berhenti dari perjalanannya di medan penjelasan. Dan imla’ yang berangkat sudah sampai garis finishnya.
“Yaa Allah, wahai Tuhan yang membentangkan kedua tangan-Nya dengan pemberian. Wahai Tuhan yang bilamana kedua tapak tangan hamba diangkat kepada-Nya, maka Dia akan mencukipinya. Wahai Tuhan yang maha suci di dalam Dzat dan Sifat-sifat-Nya dari kemiripan dari siapapun. Wahai Tuhan yang hanya Dia-lah di miliki sifat Qidam, Baqa’ dan Azali. Wahai Tuhan yang tiada harapan dan tumpuhan hati kecuali pada-Nya. Wahai Tuhan yang semua makhluk bersandar pada sifat Qudroh dan Qoyyumiyyah-Nya dan menunjukkan pada orang yang minta petunjuk dengan anugerah-Nya. Kami minta pada-Mu dengan cahaya-Mu yang suci yang menghilangkan kegelapan keraguan. Dan kami membuat perantara kepada-Mu dengan kemuliaan Nabi Muhammad, para keluarganya yang menjadi bintang di dalam keamanan mahluk dan menjadi bahtera keselamatan, para Sahabatnya yang memiliki petunjuk dan kelebihan yang telah menyerahkan diri mereka pada Allah dengan tujuan mencari anugerah-Nya, dan para Ulama yang membawa Syariat yang memiliki sifat-sifat yang bagus dan kekhususan, kami minta agar Engkau memberi pertolongan pada kami di dalam ucapan dan amal agar berniat dengan ikhlas, meluluskan tujuan setiap dari kami, baik yang hadir atau yang tidak, membersihkan kami dari kungkungan syahwat dan penyakit hati, merealisasikan pengharapan kami yang telah kami curahkan keyakinan kami pada-Mu, menjaga kami dari segala cobaan, janganlah jadikan kami orang yang dihancurkan oleh hawa nafsu, dekatkanlah pada kami keyakinan yang baik yang mirip dengan buah yang dekat dan siap dipetik, hapuslah segala dosa yang telah kami lakukan, tutuplah setiap dari kami cacat, kelemahan, khususnya kelemahan di dalam berbicara kami, mudahkanlah kami untuk berbuat amal yang baik, agung dan tinggi, jadikanlah perkumpulan kami ini rata dengan rahmat dan pengampunan dari gudang pemberian-Mu, jadikanlah kami selalu tidak bergantungan dengan selain Engkau”.

“Yaa Allah, sungguh Engkau menberikan tingkatan bagi setiap orang yang meminta pada-Mu da memberikan pengharapan setiap orang yang mengharap dari-Mu. Sedangkan kami telah meminta-Mu dengan mengharap pemberian yang langsung dari-Mu. Maka nyatakanlah pengharapan tersebut. Ya Allah, berilah kami aman dari segala ketakutan, jadikanlah kami rakyat dan penguasa yang baik. Besarkanlah pahala bagi orang yang melakukan kebaikan ini di hari ini. Yaa Allah, jadikanlah negeri ini dan negeri-negeri Islam aman dan swasembada. Berilah kami hujan yang rata di tanah yang datar dan tinggi. Ampunilah orang yang menata Burud Maulid ini, yaitu Sayyid Ja’far, orang yang sebangsa pada Albarzanji. Jadikanlah tempat peristirahatannya bersama orang-orang yang dekat dari-Mu. Berilah kedekatan dan pengharapannya tutuplah cacat, kelemahan dan khususnya di dalam berbicaranya. Begitu pula orang yang menulis, membaca dan orang yang mendengarkannya. Berilah Shalawat-Mu pada orang yang menerima Tajalli dari Dzat Tuhan (yakni: Nabi Muhammad SAW.) para keluarga, dan Sahabat, dan orang- orang yang menolongnya, selama telinga-telinga masih digantungi mutiara sifat-sifat kenabian dan beberapa panggung yang agung dihiasi dengan hiasan-hiasan kenabian”.

Shalawat yang paling afdhal semoga tercurahkan pada Sayyidina Muhammad, nabi pemungkas, keluarga dan para sahabatnya.

(Dari berbagai sumber)
Wassalam...

Senin, 06 Agustus 2012

PERATURAN TENTANG BENDERA MERAH PUTIH


PERATURAN TENTANG BENDERA MERAH PUTIH

Kini..., kita telah memasuki Bulan Agustus, ini berarti sebentar lagi kita akan merayakan kemerdekaan negara kita. Tak lepas dari serangkaian peringatan di bulan ini kita diwajibkan untuk mengibarkan Bendera Negara. Tapi apakah bendera yang sering kita gunakan dan tata cara pengibarannya telah sesuai dengan peraturan yang ada?

Pada postingan kali ini saya akan berbagi tentang hal tersebut.

Menurut Pasal 7  UU No  24  Tahun 2009 tentang BENDERA dijelaskan:
(1) Pengibaran dan/atau pemasangan Bendera Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dilakukan pada waktu antara matahari terbit hingga matahari terbenam.
(2) Dalam keadaan tertentu pengibaran dan/atau pemasangan Bendera Negara dapat dilakukan pada malam hari.
(3) Bendera Negara wajib dikibarkan pada setiap peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus oleh warga negara yang menguasai hak penggunaan rumah, gedung atau kantor, satuan pendidikan, transportasi umum, dan transportasi pribadi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan di kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.
(4) Dalam rangka pengibaran Bendera Negara di rumah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemerintah daerah memberikan Bendera Negara kepada warga negara Indonesia yang tidak mampu.
(5) Selain pengibaran pada setiap tanggal 17 Agustus sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Bendera Negara dikibarkan pada waktu peringatan hari-hari besar nasional atau peristiwa lain.
Ternyata memang ada aturannya waktu pemasangannya, bahkan saat 17 Agustus wajib dipasang di setiap kendaraan pribadi maupun umum.

Adalagi yang perlu diperhatikan pada Pasal 4 UU yang sama mengenai ukurannya, bahwa:
(1) Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.
(2) Bendera Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dari kain yang warnanya tidak luntur.
(3) Bendera Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dengan ketentuan ukuran:
a. 200 cm x 300 cm untuk penggunaan di lapangan istana kepresidenan;
b. 120 cm x 180 cm untuk penggunaan di lapangan umum;
c. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di ruangan;
d. 36 cm x 54 cm untuk penggunaan di mobil Presiden dan Wakil Presiden;
e. 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di mobil pejabat negara;
f. 20 cm x 30 cm untuk penggunaan di kendaraan umum;
g. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di kapal;
h. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di kereta api;
i. 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di pesawat udara; dan
j. 10 cm x 15 cm untuk penggunaan di meja.
(4) Untuk keperluan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (3), bendera yang merepresentasikan Bendera Negara dapat dibuat dari bahan yang berbeda dengan bahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ukuran yang berbeda dengan ukuran sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dan bentuk yang berbeda dengan bentuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Nah untunglah untuk pemasangan di rumah tidak ada aturan ukurannya, tapi yang harus diperhatikan benderanya jangan yang sudah luntur.

Saya juga sering tertegun bila melihat dua atau tiga satpam menaikan dan menurunkan bendera di sebuah gedung, sambil bernyanyi Indonesia Raya, dan juga hormat pada sangsaka.

Sekali lagi inipun ada aturannya, pada Pasal 15 UU yang sama, bahwa:
(1) Pada waktu penaikan atau penurunan Bendera Negara,  semua orang yang hadir memberi hormat dengan berdiri tegak dan khidmat sambil menghadapkan muka pada Bendera Negara sampai penaikan atau penurunan Bendera Negara selesai.
(2) Penaikan atau penurunan Bendera Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Bendera negara diatur menurut UUD ’45  pasal 35 , UU No 24/2009, dan Peraturan Pemerintah  No.40/1958 tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia
Bendera Negara dibuat dari kain yang warnanya tidak luntur dan dengan ketentuan ukuran:
  1. 200 cm x 300 cm untuk penggunaan di lapangan istana kepresidenan;
  2. 120 cm x 180 cm untuk penggunaan di lapangan umum;
  3. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di ruangan;
  4. 36 cm x 54 cm untuk penggunaan di mobil Presiden dan Wakil Presiden;
  5. 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di mobil pejabat negara;
  6. 20 cm x 30 cm untuk penggunaan di kendaraan umum;
  7. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di kapal;
  8. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di kereta api;
  9. 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di pesawat udara;dan
  10. 10 cm x 15 cm untuk penggunaan di meja.
Pengibaran dan/atau pemasangan Bendera Negara dilakukan pada waktu antara matahari terbit hingga matahari terbenam. Dalam keadaan tertentu, dapat dilakukan pada malam hari.
Bendera Negara wajib dikibarkan pada setiap peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus oleh warga negara yang menguasai hak penggunaan rumah, gedung atau kantor, satuan pendidikan, transportasi umum, dan transportasi pribadi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan di kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.
Bendera Negara wajib dikibarkan setiap hari di:
  1. istana Presiden  dan Wakil Presiden;
  2. gedung atau kantor lembaga negara;
  3. gedung atau kantor lembaga pemerintah;
  4. gedung atau kantor lembaga pemerintah nonkementerian;
  5. gedung atau kantor lembaga pemerintah daerah;
  6. gedung atau kantor dewan perwakilan rakyat daerah;
  7. gedung atau kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri;
  8. gedung atau halaman satuan pendidikan;
  9. gedung atau kantor swasta;
  10. rumah jabatan Presiden dan Wakil Presiden;
  11. rumah jabatan pimpinan lembaga negara;
  12. rumah jabatan menteri;
  13. rumah jabatan pimpinan lembaga pemerintahan nonkementerian;
  14. rumah jabatan gubernur, bupati, walikota, dan camat;
  15. gedung atau kantor atau rumah jabatan lain;
  16. pos perbatasan dan pulau-pulau terluar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  17. lingkungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia; dan
  18. taman makam pahlawan nasional.

Demikianlah sharing saya tentang Bendera Merah Putih.



~DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA~

Minggu, 22 Juli 2012

KEUTAMAAN DAN PERSIAPAN MEMASUKI RAMADHAN




Bulan Ramadhan telah tiba, kaum muslimin pun menyambutnya dengan penuh harap dan kebahagian. 
Bagaimana tidak...? Bulan yang penuh berkah dan keutamaan. Bulan diturunkannya Al Qur’an yang menunjukkan jalan kepada manusia ke arah kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat. Maka tak heran kaum muslimin menyambutnya dengan penuh suka cita.


1. Keutamaan Bulan Ramadhan
Demikianlah Allah memberikan keutamaan pada bulan ini yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya.
(Diringkas dari Sifat Saum An Nabi karya Syeikh Saalim bin ‘Ied Al Hilaliy dan Syeikh Ali Hasan Ali Abdil Hamid, cetakan keenam tahun 1417 H -1997 M, penerbit Al Maktabah Al Islamiyah, Amaan, Yordania hal 18-20)
Sangat jelas dan gamblang keutamaan Ramadhan dibanding bulan lainnya, namun kiranya masih perlu dipaparkan secara ringkas keutamaannya sebagai motivator semangat kaum muslimin beramal sholeh padanya.
Diantara keutamaan tersebut adalah:
a. Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan tersebut sebagaimana firman Allah:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah dia berpuasa.” (Surat Al Baqarah ayat 185)
Dalam ayat di atas, bulan Ramadhan dinyatakan sebagai bulan turunnya Al-Qur’an, lalu pernyataan tersebut diikuti dengan perintah yang dimulai dengan huruf ف -yang berfungsi menunjukkan makna ‘alasan dan sebab’- dalam firmanNya: فََمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ. Hal itu menunjukkan bahwa sebab pemilihan bulan Ramadhan sebagai bulan puasa adalah karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan tersebut.
b. Dalam bulan ini, para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا جَاءَ رَمَضانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النِيْرَانِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ
“Jika datang bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu para setan.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, kita dapati dalam bulan ini sedikit terjadi kejahatan dan kerusakan di bumi karena sibuknya kaum muslimin dengan berpuasa dan membaca Al-Qur’an serta ibadah-ibadah yang lainnya; dan juga dibelenggunya para setan pada bulan tersebut.
c. Di dalamnya terdapat satu malam yang dinamakan Lailatul Qadar, satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Qadr.
إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌمِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan-nya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Surat Al Qadr ayat: 1-5)
Melihat keutamaan-keutamaan ini tentunya membuat seorang muslim lebih bersemangat dalam menyambutnya dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin menjelang datangnya bulan tersebut.
2. Persiapan Menghadapi Ramadhan
Diantara yang harus dipersiapkan seorang muslim dalam menyambut kedatangan bulan yang mulia ini adalah:
a. Menghitung Bulan Sya’ban
Salah satu bentuk persiapan dalam menghadapi Ramadhan yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin adalah menghitung bulan Sya’ban, karena satu bulan dalam hitungan Islam adalah 29 hari atau 30 hari sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Umar, beliau bersabda:
الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ لَيْلَةً، فَلا َتَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ
“Satu bulan itu 29 malam. Maka jangan berpuasa sampai kalian melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka genapkanlah 30 hari.” (Riwayat al-Bukhari)
Maka tidaklah kita berpuasa sampai kita melihat hilal (tanda masuknya bulan). Oleh karena itu, untuk menentukan kapan masuk Ramadhan diperlukan pengetahuan hitungan bulan Sya’ban.
b. Melihat hilal Ramadhan (Ru’yah)
Untuk menentukan permulaan bulan Ramadhan diperintahkan untuk melihat hilal, dan itulah satu-satunya cara yang disyariatkan dalam Islam sebagaimana yang dijelaskan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ (6/289-290) dan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughniy (3/27). Dan ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah yang berkata, “Kita sudah mengetahui dengan pasti bahwa termasuk dalam agama Islam beramal dengan melihat hilal puasa, haji, atau iddah (masa menunggu), atau yang lainnya dari hukum-hukum yang berhubungan dengan hilal. Adapun pengambilannya dengan cara mengambil berita orang yang menghitungnya dengan hisab, baik dia melihatnya atau tidak, maka tidak boleh.” (Lihat: Majmu’ al-Fatawa 25/132)
Kemudian perkataan beliau ini merupakan kesepakatan kaum muslimin. Sedang munculnya masalah bersandar dengan hisab dalam hal ini baru terjadi pada sebagian ulama setelah tahun 300-an. Mereka mengatakan bahwa jikalau terjadi mendung (sehingga hilal tertutup) boleh bagi orang yang mampu menghitung hisab untuk beramal dengan hisabnya itu hanya untuk dirinya sendiri. Jika hisab itu menunjukkan ru’yah, maka dia berpuasa, dan jika tidak, maka tidak boleh. (Lihat: Majmu’ al-Fatawa25/133). Lalu, bagaimana keadaan kita sekarang ?
Adapun dalil tentang kewajiban menentukan permulaan bulan Ramadhan dengan melihat hilal sangat banyak, di antaranya adalah:
1. Hadits Ibnu Umar terdahulu.
الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ لَيْلَةً، فَلا َتَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ
“Satu bulan itu 29 malam. Maka jangan berpuasa sampai kalian melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka genapkanlah 30 hari.” (Riwayat al-Bukhari)
2. Hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu. Beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ
“Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian (untuk idul fithri) karena melihatnya. Jika (hilal) tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah Sya’ban 30 hari.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
3. Hadits ‘Adi bin Hatim radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَصُوْمُوْا ثَلاَثِيْنَ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا الْهِلاَلَ قَبْلَ ذَلِكَ
“Jika datang Ramadhan maka berpuasalah 30 hari kecuali kalian telah melihat hilal sebelumnya.” (Riwayat ath-Thahawy dan ath-Thabrany dalam al-Kabir 17/171, dan dihasankan Syaikh al-Albany dalam Irwa’ al-Ghalilnomor hadits 901)
Penentuan bulan Ramadhan dengan cara melihat hilal dapat ditetapkan dengan persaksian seorang Muslim yang adil sebagaimana yang dikatakan Ibnu Umar radhiallahu’anhu:
تراءى الناس الهلال فأخبرت النبي صلى الله عليه و سلم أني رأ يته فصام وأمر الناس بصيامه
“Manusia sedang mencari hilal, lalu aku khabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihatnya maka beliau berpuasa dan memerintahkan manuasia untuk berpuasa.” (Riwayat Abu Dawud, ad-Darimy, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Baihaqy)
c. Puasa pada Hari yang Diragukan
Berpuasa pada hari yang diragukan, apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum, adalah terlarang sebagaimana di sebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُقَدِّمُوْا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلاً يَصُوْمُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
“Janganlah mendahului puasa Ramadhan dengan puasa satu hari atau dua hari (sebelumnya), kecuali orang yang (sudah biasa) berpuasa satu puasa (yang tertentu), maka hendaklah dia berpuasa.” (Riwayat Muslim)

Oleh : Ustadz Kholid bin Syamhudi, Lc.
Sumber : www.muslim.or.id
***

Bagi ke :